Tangisan Malam Untuk Sebuah Renungan

Tangisan Malam Untuk Sebuah Renungan

Ketika segumpal hawa berkobar dalam dada,dipacu segelintir mahluk api hina,dan Secuil takwa tenggelam diaduk darah yang mengalir,Bagai tiada arti segenggam iman memeluk kalbuku
Aku seorang hamba yang tak kenal pahit dunia
Yang kutahu hanyalah sinar yang menyilaukan dan menutup mataku..
hening malam.. yang menghujamkan seribu tanya..
Dimulai saat ejaan kata tak lagi mengisyaratkan wacana,
Tercucur sudah air mata mengalir di kehenigan malam yg
Menghela nafas…
…maafkan q wahai duniaku…cz q tlah mmpermainkanmu,dan memberi berjuta2 harapan untuk mimpi2 indahmu..
akan tetapi sungguh bukan maksd bgtu,krn q hanya ingin mmberi kebahagiaan kpada siapa yg membutuhkan,memberi hangat kpada hati2 yg kedinginan dan mencoba memberi cahaya baru dihati yg sedang kegelapan…akan tetapi apa yg telah aku lakukan telah dianggap alam tdk benar..
desir angin malam semakin menerpa seakan menegur smua ksalahanq…seketika q jd tambah binggung ingin berteriak dan meronta namun q rasa tak mungkin cz hari sdah cukup larut & menjelang pagi,disini q hnya bsa menangis menyesali tntang apa yg tlah aku lakukn,hingga tak kuasa menahan gejolak rasa yg kian meronta2 mengharapkan pengampunan…
…Yaa ALLAH …berlinang air mata hamba saat ini….
dan Bertanya bathin hamba ini….
Bagaimanakah pandangan ENGKAU pada hamba saat ini…?
Terlalu ngeri hamba tuk membayangkannya…
…Yaa ALLAH…sedemikian kelam jiwa hamba terbalur dosa….
Adakah pantas tuk bersujud pdmu TUHAN SEGENAP ALAM…???
…Yaa RABB…masih pantaskah diri ini menghambakan diri pada MU ??….
Sedangkan hampir di setiap saat diri ini menjadi
hamba nafsu…
hamba harta..
hamba syahwat…
hamba angkara murka..
hamba dunia…
dan hamba-hamba selain ENGKAU..????
…Yaa ROHMAAN Yaa ROHIIM…masih berkenankah ENGKAU dengar dan kabulkan apa yg hamba pinta Saat ini…????
hamba mohon dengan segenap jiwa raga dalam genggam-MU YANG MAHA PENGASIH DAN MAHA PENYAYANG….;
“Peliharalah kerinduan di batin ini akan belaian karuniamu…walau tak pernah kurang karunia MU.”
“Jangan tinggalkan hamba walau hanya sesaat”
“Jadikanlah apa yg menjadi keridlo’an MU adalah Keridlo’an hamba juga”
Kuhadapkan hati, jiwa ragaku kehadiratMu Seraya syukur memuja asmaMu,Mengemis sepucuk padi, mengiba sepancar sinar,Sejuk hati, tentram jiwa, kala damai kian membelai..
Ya Rabb, beri aku jalan, beri aku tangan
biar Kugapai bulanMu dalam gelap malam
Tersudut berlinang diujung kamar berdebu
Berselimut hangat karma yang menyiksa
Tak kuasa berpaling tuk menghindar
Derita terus mendera, menempa, menindih dari segala arah
Tak ingin kusesali
Namun wajar sakit ini meminta sedikit air mata
Hingga hampir kering jelaga rasa pelipur jiwa
Ragaku teguh namun tidak jiwaku…
saat pikiranku bertanya:mengapa aku tak gembira saja..??hatikupun menjawab:
“Menangislah wahai diri, agar senyumanmu banyak di kemudian hari. Kerana engkau belum tahu, nasibmu dihizab kanan atau hizab kiri.“Bagaimana hendak bergembira sedangkan mati itu di belakangku,kubur di hadapanku,kiamat itu janjianku, neraka itu memburuku dan perhentianku ialah ALLAH.SWT”Aku ingin menangis di sini, sebelum menangis di sana…!!!
“Menangislah seperti Saidina Umar yang selalu memukul dirinya dengan berkata:“Kalau semua masuk ke dalam syurga kecuali seorang, aku takut akulah orangitu.”
Perjalanan ini adalah menuju akhirat. Suatu perjalanan yang kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar berakhir pada kenikmatan surga. Bukan neraka. Karena keagungan perjalanan menuju hari akhir inilah Rasulullah bersabda:
“Seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Mutaffaqun ‘alaih)
maksudnya, jika kita mengetahui hakekat ajal yang akan menjemput kita dan kedahsyatan alam kubur, kegelapan hari kiamat dan segala kesedihannya, shirot (titian) dan segala rintangannya, surga dengan segala kenikmatannya, niscaya akan memberikan motivasi kepada kita untuk mengadakan perubahan. Berubah dari kefasikan dan kekafiran menjadi keimanan, dari kemunafikan menjadi istiqamah, dari keraguan menjadi keyakinan, dari kesombongan menjadi ketawadhu’an, dari rakus menjadi rasa syukur dan sederhana, dari pemarah dan pendendam menjadi kasih sayang dan memaafkan, dari kelicikan dan kesewenangan menjadi kejujuran dan keadilan, dari kedustaan menjadi kebenaran. Jadi, perubahan diri dari sifat dan watak syaithoni dan hewani, menjadi insan Islami harus segera di mulai.
Akan tetapi kita sering lupa atau berpura-pura lupa dengan perjalanan panjang tersebut, bahkan malah memilih dunia dengan segala perangkatnya, kemewahan, kecantikan, kekayaan, kedudukan yang semua nilainya disisi Allah S.W.T, tidak lebih dari sehelai sayap nyamuk!………….Wallahu a’lam…

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s